Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

Thursday, 15 March 2012

Biografi Benyamin Sueb

Benyamin Sueb (lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939 – meninggal di Jakarta, 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeran, pelawak, sutradara dan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.
Celetukan "muke lu jauh" atau "kingkong lu lawan" pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb. Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya. Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai "imbalan".
Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.

Karier

Benyamin Mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. Tergantung kondisi, kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.
Ia akhirnya jadi pedagang roti dorong. Pada tahun 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bis PPD, langsung diterima. Tidak ada pilihan lain, katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan BantengwPasar Rumput. Itu pun tidak lama. Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu, tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan. Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bis PPD. Kabur, daripada diusut.
Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ diantaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Awal karier

Kesuksesan dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan satu grup Naga Mustika. Grup yang berdomisili di sekitar Cengkareng inilah yang kemudian mengantarkan nama Benyamin sebagai salah satu penyanyi terkenal di Indonesia.

Duet dengan Ida Royani

Selain Benyamin, kelompok musik ini juga merekrut Ida Royani untuk berduet dengan Benyamin. Dalam perkembangannya, duet Benyamin dan Ida Royani menjadi duet penyanyi paling popular pada zamannya di Indonesia. Bahkan lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi tenar dan meraih sukses besar. Sampai-sampai Lilis Suryani salah satu penyanyi yang terkenal saat itu tersaingi.

Gambang kromong

Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu.
Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).
Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.

Paska duet dengan Ida Royani

Setelah Ida Royani hijrah ke Malaysia tahun 1972, Bang Ben mencari pasangan duetnya. Ia menggaet Inneke Koesoemawati dan berhasil merilis beberapa album, di antaranya "Nenamu" dengan tembang andalan seperti Djanda Kembang, Semut Djepang, Sekretaris, Penganten Baru dan Pelajan Toko.

Dunia film

Lewat popularitas di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan untuk main film. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.

Akhir karier

Pada akhir hayatnya, Benyamin juga masih bersentuhan dengan dunia panggung hiburan. Selain main sinetron/film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) ia masih merilis album terakhirnya dengan grup Rock Al-Haj bersama Keenan Nasution. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut.

Kontribusi terhadap gambang kromong

Dalam dunia musik, Bang Ben (begitu ia kerap disapa) adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.

Meninggal dunia

Makam Benyamin di TPU Karet Bivak, Jakarta
Benyamin yang telah empat belas kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.

Ref : http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb

Wednesday, 14 March 2012

About Kahitna

KAHITNA, grup band yang dimotori oleh Yovie Widianto dan dibentuk pada lebih dari dua dekade lalu ini masih terus berkarya menghasilkan lagu-lagu bertema cinta yang menyentuh dan catchy.
Dengan aransemen musik yang cantik, KAHITNA berhasil menggabungkan unsur jazz, pop, fussion dan etnik yang memikat hati para Soulmate, sebutan untuk fans KAHITNA.

Sebut saja Cerita Cinta, Seandainya Aku Bisa Terbang, Cantik, Tak Sebebas Merpati, Setahun Kemarin, Andai Dia Tahu, Permasuriku, Menikahimu dan masih banyak lagi seakan menjadi soundtrack untuk kisah cinta para penikmat musik di Tanah Air.

Berawal pada tahun 1983, Yovie Widianto membentuk band yang bernama Coops Rhythm Section yang sebagian besar anggotanya menjadi Indonesia 6, Ruth Sahanaya dan KAHITNA. Karena perbedaan idealisme, Yovie Widianto melepaskan diri dan membentuk KAHITNA.

Didirikan di Bandung tanggal 24 Juni 1986, KAHITNA berasal dari bahasa Philipina yang berarti "meskipun demikian". Yang akhirnya dipelesetkan menjadi bahasa Sunda "Ka" dan "Na" yang merupakan awalan dan akhiran. Sehingga ketika disatukan artinya menjadi "yang paling hits". Pada awal terbentuknya KAHITNA formasi awal untuk vokalis adalah Tri Utami. Namun, pada perkembangannya, KAHITNA mengalami pergantian personil sehingga terbentuklah formasi seperti sekarang :

  1. Yovie Widianto [piano, keyboard],
  2. Mario Ginanjar [vokalis],
  3. Hedi Yunus [vokalis],
  4. Carlo Saba [vokalis],
  5. Dody Isnaini [bass],
  6. Harry Suhardiman [perkusi],
  7. D. Bambang Purwono [keyboard],
  8. Budiana Nugraha [drum],
  9. Andrie Bayuaji [gitar]
 Ref : http://www.kahitna.net/home/biography.php

Monday, 27 February 2012

Biografi penemu Piano - Bartolomeo Cristofori

         Bartolomeo Cristofori lahir di Italia pada tanggal 4 mei 1655. Kehidupan masa kecilnya tidak banyak diketahui. Orang menyebut Cristofori sebagai orang pertama yang menemukan piano. Sebuah sumber hanya mengatakan bahwa Cristofori menimba ilmu dengan cara "mengabdi" pada Nikolo Amati, seorang pembuat biola terkenal pada waktu itu. Saat berusia 33 tahun atau tepatnya pada tahun 1688, Cristofori direkrut oleh Prince Ferdinando de Medici. Ferdinando adlah seorang pecinta musik yang merupakan pewaris Cosimo III, satu dari Grand Dukes of Tuscany.

          Saat itu Tuscany merupakan kerajaan otonom kecil di Italia. Cristofori bekerja dengan ulet dan rajin sehingga membuat Ferdinando kagum dan senang kepadanya dan memberikan bayaran yang lebih tinggi dari yang semula disepakati. Pada tahun 1700, untuk pertama kalinya Cristofori membuat alat musik yang kemudia dikenal dengan nama piano. Alat musik temuan Cristofori ini memiliki suara 4 oktaf. Seorang jurnalis bernama Scipione Maffei menggambarkan alat musik itu sebagai gravecembalo col piano e forte, yang berarti harpsichord dengan papan tuts lembut yang bersuara keras. Semula alat musik ini disebut sebagai pianoforte, namun pada akhirnya lebih dikenal dengan nama piano.